BONTANG – Atmosfer Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Bontang Selatan mendadak bergemuruh penuh semangat pada hari kedua Pelatihan Literasi dan Numerasi (Litnum) Guru SD se-Kota Bontang, Kamis (27/8/2026). Tidak sekadar pelatihan rutin, agenda hari kedua ini bertransformasi menjadi panggung pembuktian kreativitas pendidik yang sarat energi, di mana ratusan guru diajak mendobrak cara pandang lama dalam mengajarkan literasi di ruang-ruang kelas.

Sesi berkelas ini menghadirkan narasumber utama Kartini Hilmatunnida, S.Pd., M.Pd., sosok inspiratif yang menjabat sebagai Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Bontang. Dalam pendampingannya, beliau berkolaborasi dengan Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang, Ibu Dwi Utari, S.Pd.SD., M.Pd.

Di antara deretan peserta, delegasi dari SDN 010 Bontang Selatan—yang diwakili oleh Ibu Nurlina, S.Pd., Bapak Jemy Bala, S.Pd., dan Ibu RR. Herima Suci Dewayanti, S.Pd.—tampil sangat dominan dan interaktif. Momen paling membanggakan pecah saat Bapak Jemy Bala, S.Pd. dinobatkan sebagai peserta terbaik sesi pelatihan. Atas keaktifan dan pemahamannya yang tajam, beliau dianugerahi apresiasi spesial berupa buku karya narasumber yang diserahkan secara langsung di hadapan seluruh peserta.

Agenda intensif yang berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 17.00 WITA ini mengupas tuntas strategi penguatan literasi serta Tahapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Dalam pemaparannya, Kartini menegaskan bahwa literasi bukanlah sekadar kegiatan mengeja atau membaca teks formal, melainkan kemampuan mencerna makna secara kritis melalui teks multimoda.

Beberapa strategi pemahaman teks tingkat tinggi yang dibedah meliputi:

  • Teknik Inferensi: Melatih siswa menemukan makna tersirat dengan menyimpulkan fakta-fakta menjadi gagasan baru.
  • Koneksi Teks Multi-Dimensi: Mendorong siswa menghubungkan bacaan dengan pengalaman pribadi (Text-to-Self), bacaan lain (Text-to-Text), hingga fenomena dunia (Text-to-World).
  • Model Pelepasan Tanggung Jawab: Pendekatan bertahap mulai dari pemodelan oleh guru (I do), praktik terbimbing (We do), hingga kemandirian siswa (You do).

Sesi makin hidup ketika materi bergeser ke ranah penulisan cerita anak. Para guru dibekali resep dapur kreatif: mulai dari penokohan yang kuat, teknik menghidupkan lima pancaindra dalam deskripsi, hingga penggunaan majas aliterasi dan metafora agar bacaan anak menjadi lebih ajaib dan memikat.

Rangkaian hari kedua ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang siap diterapkan di sekolah masing-masing. Pelatihan berskala kota ini dijadwalkan memasuki puncaknya pada Jumat, 28 Agustus 2026.

@dqreasi