BONTANG, 18 Agustus 2026 – Sebuah pencapaian akademik luar biasa sekaligus kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan ketahanan pangan lahir dari Kota Bontang. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang, Dr. H. Ahmad Aznem, S.E., M.Si., resmi menyandang gelar Doktor Manajemen Pendidikan usai sukses mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka di Universitas Mulawarman (Unmul).
Lulus sebagai Doktor ke-90 dengan predikat Cum Laude (IPK 3,97) dalam waktu singkat 2 tahun 8 bulan, Dr. Ahmad Aznem membawa gagasan segar yang siap merevolusi cara sekolah mencetak generasi sehat.
Momen pengukuhan yang bernilai strategis ini terasa semakin istimewa dengan hadirnya tokoh-tokoh penting daerah yang memberikan dukungan penuh, di antaranya Ketua Komite 1 DPD RI, Dr. dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.N, dan Walikota Bontang, dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.OG. Kehadiran para pembuat kebijakan ini menegaskan kuatnya komitmen lintas sektor dalam memajukan pendidikan dan kesehatan di Bontang.
Menjembatani Pendidikan dan Pencegahan Stunting
Melalui disertasinya, Dr. Ahmad Aznem memperkenalkan kebaruan ilmiah bernama IFS-SBM (Integrated Food Security School Based Management). Model ini memadukan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dengan program pertanian terintegrasi—seperti program lokal "Besai Berintah"—guna memperluas peran sekolah dasar menjadi simpul intervensi gizi dan edukasi pangan keluarga.
Model IFS-SBM ini telah diuji coba secara empiris di tiga sekolah dasar dengan karakteristik wilayah yang berbeda:
- SDN 009 Bontang Utara: Mewakili kawasan industri.
- SDN 005 Bontang Selatan: Mewakili sekolah pesisir (atas air).
- SDN 002 Bontang Barat: Mewakili sekolah dengan pekarangan darat yang luas.
Enam Pilar Utama Penggerak Program
Agar tidak sekadar menjadi teori di atas kertas, model IFS-SBM dirancang dengan enam komponen tata kelola yang terstruktur dan dinyatakan Sangat Valid (92,8%) serta Sangat Praktis (91,7%) oleh para ahli. Keenam komponen tersebut meliputi:
- Visi dan Tujuan yang fokus pada ketahanan pangan.
- Struktur Organisasi dan Peran yang melibatkan kepala sekolah hingga orang tua siswa.
- Perencanaan Berbasis Sekolah yang masuk dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS).
- Kolaborasi Lintas Sektor bersama dinas terkait dan kelurahan.
- Pemberdayaan Komunitas untuk mereplikasi budidaya pertanian di rumah.
- Monitoring dan Evaluasi menggunakan instrumen standar.
Lebih dari Sekadar Bertani: Membentuk Karakter Anak
Dalam sidang yang berlangsung interaktif tersebut, Dr. Ahmad Aznem menekankan bahwa fokus utama model ini bukanlah seberapa banyak panen yang dihasilkan, melainkan perubahan mindset dan perilaku anak-anak.
"Pertanian terintegrasi di sekolah adalah programnya, namun yang kita sasar adalah edukasinya. Melalui kegiatan menanam, merawat, dan memanen bersama, anak-anak belajar menghargai proses dan mulai gemar mengonsumsi makanan bergizi seperti sayuran segar dan ikan," tegasnya.
Menariknya, program ini memicu "efek domino" positif. Praktik menanam di sekolah berhasil direplikasi oleh siswa di rumah dengan modal yang sangat terjangkau, melibatkan peran aktif orang tua hingga kakek-nenek.
Apresiasi Tokoh Nasional dan Harapan Masa Depan
Gagasan brilian ini tak luput dari sorotan nasional. Ketua Komisi X DPR RI, Ibu Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, yang hadir langsung sebagai Penguji Eksternal, memuji model IFS-SBM karena mampu mengeksekusi kebijakan daerah secara nyata di level sekolah. Beliau berharap program ini dapat diadopsi di tingkat nasional.
Apresiasi juga mengalir dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tanjung, hingga tokoh masyarakat di New York, Imam Shamsi Ali.
Dengan penerapan IFS-SBM, sekolah dasar kini tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu, melainkan bertransformasi menjadi agen perubahan gizi keluarga. Sebuah langkah pasti menuju Generasi Emas Indonesia 2045 yang tangguh, cerdas, dan berdaulat pangan.
Sumber: TVRI dan doktor mppd (kanal YouTube)
@dqreasi